Kamis, 22 November 2012

Riwayat hidup KI AGENG SURO DIWIRYO

KI AGENG SURO DIWIRYO


Ki Ageng Hadji Ngabehi Soerodiwirjo (Eyang Suro) lahir pada 1869 di Gresik, Jawa Timur. Putra tertua Ki Ngabehi Soeromihardjo (Bupati Gresik pada saat itu) yang bergaris keturunan sampai ke Sultan Syah Alam Akbar Al-Fattah (R. Patah), Sultan Demak I (kerajaan Islam pertama yang berpusat di Jawa). Sejak kecil, beliau sudah tinggi semangatnya dalam menimba ilmu. Pada usia 15 tahun, beliau belajar agama sekaligus pencak silat di pondok pesantren Tebuireng, Jombang (Jawa Timur). Setahun kemudian (pada usia 16 tahun), beliau menjadi pegawai pengawas di Bandung dan menggunakan kesempatan selama tinggal di tempat barunya ini untuk mengenal dan mempelajari beragam pencak silat aliran Pasundan (Jawa Barat) seperti Cimande, Cikalong, Cipetir, Cibaduyut, Cimalaya dan Sumedangan. Pada usia 17 tahun, beliau mempelajari pula pencak silat-pencak silat aliran Betawen, Kwitang dan Monyetan ketika dipindahkan oleh kantornya ke Betawi (Jakarta). Pada usia 18 tahun, beliau dipindahkan lagi ke Bengkulu dan kemudian ke Padang (Sumatra Barat). Di sini pun beliau banyak mempelajari berbagai aliran pencak silat setempat seperti Padang Pariaman, Padang Panjang, Padang Sidempuan, Solok, Singkarak dan Kuda Batak. Di daerah ini beliau tinggal selama 10 tahun sebelum kemudian ke Aceh dan mempelajari aliran pencak silat setempat.

Melalui perguruan-perguruan pencak silat Setia Hati yang didirikan para muridnya inilah ajaran-ajaran Eyang Suro turut disebarkan ke masyarakat. Berhubung situasi pada saat itu adalah berada di tengah-tengah semangat patriotik yang tinggi menghadapi penindasan penjajah maka semakin banyak pula para pemuda yang turut bergabung untuk belajar. Setia Hati masih eksis hingga kini dan berkembang luas, bukan hanya di berbagai penjuru daerah Nusantara namun juga manca negara.
Pesan Ki ageng suro diwiryo sebelum wafat :

"Jika saya sudah pulang ke Rachmatullah supaya saudara-saudara “Setia-Hati” tetap bersatu hati, tetap rukun lahir bathin."
Dedikasi dan loyalitas untuk perguruan besar,ajaran tentang hidup yang sejati,makna persaudaraan...semua ada dalam SETIA HATI..
sedih dan menjadi bingung ketika di tanah air indonesia melihat pertikaian antara saudara setia hati terate dan setia hati winongo..
sebenarnya apa yang diperebutkan?saya fikir sebuah perguruan besar tidak perlu lagi membutuhkan pengakuan,yang terpenting adalah keutuhan persaudaraan untuk terus berdiri tegar sebagai perguruan pencak silat yang disegani.sh winongo atau sh terate atau sh yang lain ? saya cinta ,saya salut,dan saya adalah setia hati .Ditengah kebingungan itu akhirnya saya pilih sh eyang suro.seandainya pertikaian ini terjdi pada saat beliau masih sugeng.apa yang akan dilakukan ? atau apakah pertikaian ini memang telah terjadi dari dulu?ah ..ketidak sefahaman itu wajar terjadi dalam sebuah organisasi.Hanya saja pengertian dan jiwa besar para pendekar sejati yang ber-SH lah yang sanggup menyelaraskan.salam persaudaraan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Frdshare site © 2008 Template by:
Farid Ardiansyah